Title : Let The Music Be Your Guide
Genre : Romance
>>Ini murni
imajinasi Author. Tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian atau hal apa pun.
DON’T COPAS!!!!
FF
ini dedicated for my bestfriend untuk ultahnya …
Hope
u like this … ^^
Saengil
Chukkahaeyo Nao-ssi ….
Oh
iya, aku juga muncul neee …
Author
kudu tetap eksis dong …
RCL
ya chingudeul!!!
Happy
Reading all … ^^
OneShoot
Cast :
Nao
as Park Eun Hee
Jo
Youngmin (Boyfriend) as himself
Numpang
nama : (hahahay)
Yuanisa
Aulya Abdi (author) as Kim Soo Rin
Jo
Kwangmin (Boyfriend) as himself
>>
Jo Youngmin PoV
Aku
duduk termenung di bangku penonton. Gedung teater ini masih sangatlah sepi.
Tapi aku sudah tidak sabar melihat pertunjukan ini. Aku sudah mengenakan
pakaian formal. Dan kurasa aku juga sudah cukup mempesona. Aku sudah berulang
kali belajar tersenyum dengan benar di depan cermin.
Aku
melihat arloji di tanganku.
“Masih
satu jam lagi … Lama sekali …” desahku.
Aku
melihat ke sekitar gedung dengan gelisah. Masih belum ada satu orang pun yang
memasuki ruangan. Aku menyebar pandangan ke seluruh penjuru gedung teater ini.
Aku melihat altar panggung yang megah itu. Panggung itu masih kosong. Tirai
panggung itu masih di tutup.
Aku
menggenggam erat penganggan di bangku itu. Di bangku ini aku pertama kali betemu
dengannya. Di sinilah semuanya berawal.
“Ah
… Kenangan …” gumamku lirih.
Entah
kenapa beribu-ribu ingatan itu kini muncul lagi. Memenuhi ruangan di kepalaku
dan hatiku.
-Four Years Ago-
Aku
berlari kencang menyusuri jalanan kota Seoul. Aku menabarak beberapa orang dan
tidak mempedulikannya. Beberapa orang meneriaki aku tapi aku tak
mempedulikannya.
“Hati-hati
kalau jalan!!” seru seseorang yang kutabrak.
Aku
malah menoleh sekilas kepadanya dengan tajam. Orang itu langsung diam dan
mengangguk ketakutan.
Bah!
Dasar Pengecut! Menghambat saja!
Aku
melanjutkan lariku.
Aku
memperlambat lariku dan sedikit lega saat melihat gedung teater itu. Gedung itu
ramai karena akan ada pertunjukkan.
“Ya!
Youngmin! Kau telat! Cepat masuk!” panggil Rin sambil melambai ke arahku.
Aku
berderap menuju yeoja bernama Kim Soo Rin itu.
“Mana
Kwangmin?” tanyaku sambil menghirup nafas panjang.
“Dia
dan aku sudah mulai daritadi. Sekarang aku sedang istirahat sedangkan Kwangmin
masih mau latihan.” jelasnya sambil menyeruput milk shake vanilla di tangan
kanannya.
“Begitu.
Apa pertunjukannya sudah mulai?”
“Ne.
Mau dimulai. Kita bertiga lihat bersama yuk! Sebagai referensi!” Rin menarik
tanganku memasuki gedung megah itu.
Kami
menyusuri ruangan yang di desain secara klasik. Banyak sekali orang-orang yang
sedang berkunjung ke situ. Sangat amat banyak.
“Youngie!
Rin!” teriak Kwangmin di sebuah ambang pintu.
Aku
dan Rin berderap menuju namja kembaranku itu.
“Pertunjukan
sudah mau dimulai. Khaja!” Kwangmin menggenggam tangan Rin.
Membuatku
iri sekali. Mereka berdua sangat mesra. Membuatku iri. Aku sengaja berjalan
lambat di belakang mereka. Tapi kurasa keputusanku itu sangatlah salah! Karena
akibatnya aku jadi duduk jauh terpisah dari mereka.
“Aisshh.”
aku menghempaskan diriku di salah satu kursi dengan kesal.
Tirai
panggung mulai dibuka dan musik mulai mengalun indah. Drama musical kali ini
akan dimulai. Pertunjukan perdana yang sangat ramai. Aku berharap suatu saat
nanti aku juga akan berdiri di panggung itu. Bermain dengan penuh semangat dan
menjadi terkenal.
“Kau
mau popcorn?” tawar seorang yeoja dengan suara yang lucu.
Aku
menoleh ke kiri ke arah yeoja dengan senyum lucu itu. Ia menyodorkan sekantong
popcorn kepadaku.
“Mau
atau tidak?” tawarnya sekali lagi sambil mengunyah.
Aku
hanya mendesah panjang. Bisa-bisanya yeoja ini berkelakuan seperti ini.
“Ini
bukan bioskop. Ini gedung teater. Arra?”
“Lantas?”
“Baru
kali ini aku melihat seseorang membawa popcorn ke gedung teater. Apa ini
pengalaman pertamamu?”
“Ya
sudah kalau tidak mau.” ia mengalihkan pandangannya dan fokus kepada
pertunjukkan. “kasar sekali.” celetuknya.
Mau
tidak mau aku harus menggeram karena amarah. Yeoja ini menyebalkan sekali.
Sudah kelihatan udiknya tapi masih mengejek. Memang dia bisa apa sih???
“Sudah.
Berhenti memelototi aku. Risih.”
Aku
tersentak kaget. Dasar yeoja aneh!
Pertunjukan
berlangsung dengan sukses. Performa yang dibawakan oleh para bintang-bintang di
panggung sangatlah bagus dan mempesona. Aku yakin suatu saat aku pasti bisa
menunjukkan bakatku kepada dunia dengan berdiri di panggung itu.
“Wah!
Gerakannya tertinggal beberapa detik …” gumam yeoja menyebalkan di sebelahku.
Apa
maksudnya? Aku melihat ke arah dia melihat. Yeoja itu melihat ke arah seorang
penari latar yang kelihatannya sedang menyesuaikan gerakan.
Tertinggal
beberapa detik.
Jeli
sekali yeoja ini. Aneh …
“Bagaimana
kau tahu?” tanyaku spontan sambil menoleh ke arahnya yang masih sibuk dengan
popcorn.
“Entah.
Mataku selalu menagkap hal-hal detail seperti itu. Aneh ya?” jawabnya sambil
tetap fokus ke pertunjukan.
Tatapan
gadis itu terfokus ke arah panggung. Seperti meneliti semua proses
pertunjukkan. Matanya seakan bersinar-sinar melihat drama musical itu.
“Suatu
saat nanti aku akan berdiri di panggung itu dan menampilkan yang terbaik!”
yeoja itu bergumam lirih dengan penuh semangat.
******
“Kenapa
kau memisahkan diri Yongie??” tanya Kwangmin sambil mengelayut manja di
lenganku.
“Aku
tidak bisa menembus tribun penonton.” jawabku asal.
“Hmmm
… Latihan yuk?”
Aku
mengangguk dan berjalan menuju ke ruang latihan yang terletak di lantai dua.
Ruang latihan itu sudah ramai dengan beberapa orang yang seumuran dengan kami.
Mereka menyambut kami dengan hangat. Seperti biasanya aku hanya membalas
sambutan itu dengan anggukan tanpa senyum.
“Youngmin
keren sekali …” ucap salah seorang yeoja yang entah siapa dia. Aku tak
mengenalnya meski sering bertemu.
Aku
tak mempedulikannya dan terus berjalan menju ke ruang ganti. Mengganti pakainku
hanya dengan kaus dan celana training selutut.
Aku
membuka pintu ruang ganti dan tersentak keget melihat orang di depanku.
Orang
itu adalah yeoja menyebalkan tadi. Si tukang makan popcorn.
“Apa
yang kau lakukan?” tanyaku.
“Minggir.
Aku mau ganti.” ia menyingkirkan aku dari pintu dan berderap masuk.
Yeoja
itu menutup pintu dengan kasar.
Aku
masih sangat penasaran dengan apa yang dia lakukan di sini. Tapi semua itu
terjawab saat latihan di mulai. Ia memperkenalkan diri kepada yang lain sebagai
member baru.
“Jooneun
Park Eun Hee imnida.” ia memperkenalkan diri sambil menunjukkan senyumnya yang
lucu itu. “Mohon bantuannya!” ucapnya sambil membungkuk.
Selama
latihan mataku terus saja mengikuti gerak gerik Eun Hee. Ia member baru, tapi
kenapa sudah bisa melakukan maneuver-manuver yang sulit! Aku bahkan baru bisa
melakukan hal itu setelah 5 bulan bergabung! Menyebalkan …
“Eun
Hee!! Kau hebat!” puji Rin riang.
“Biasa
saja! Eonnie lebih hebat!” balas Eun Hee sambil terengah.
“Jangan
panggil Eonnie! Panggil Rin saja…”
“Ne.
Rin-ssi …”
“Begitu
baru bagus Hee-ahh …”
Kwangmin
menggelayut di bahuku sambil mengelap keringatnya.
“Anak
baru itu lumayan.” komentarnya.
“Biasa
saja.” jawabku datar.
“Dasar
Mr. Cool. Bersikaplah sedikit ramah kepada anak baru untuk membuatnya lebih
nyaman.” saran Kwangmin sambil memukul dadaku.
“Tidak
ada urusannya denganku …”
******
Kwangmin
dan Rin sudah duluan menuju ke kedai kopi. Aku sengaja tinggal lebih lama
karena malas jika harus melihat dua orang itu bermesraan terus. Membuat iri.
Aku
samar-samar mendengar alunan musik. Kurasa ini adalah musik yang tadi diputar
saat pertunjukan. Tapi yang ini beda. Alunan ini mirip suara dari piano.
Aku
berjingkat-jingkat menuju ke ruang latihan. Suara musik yang lembut dan ceria
mengalun dengan sempurna dari audio. Samar-samar terdengar suara piano yang
seirama.
Aku
melihat Eun Hee memainkan piano sambil bernyanyi dengan lembut. Tidak kusangka
suaranya semerdu ini. Jarinya dengan ahli memencet tuts piano itu.
Ia
mengehentikan permainan pianonya saat musik mulai mengehentak. Ia melangkah
dengan anggun dan mulai dengan dance. Sama sekali tidak terlihat seperti
pemula.
Hal
yang dilakukannya hari itu membuatku terpesona. Membuatku hanya menatapnya.
Wajahnya yang serius dan ceria saat beraksi adalah yang paling cantik.
Yeoja-menyebalkan-pecinta popcorn-yang misterius ini membuatku jatuh hati. Menyebalkan
sekali. Menyebalkan sekali karena aku harus jatuh cinta kepadanya …
-NOW-
Aku
melihat arloji lagi dengan sebal. Masih lama.
Bangku-bangku
mulai terisi oleh beberapa orang. Penonton itu terlihat sangat antusias.
Seorang
keluaraga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang putri kecil memasuki
ruangan ini. Keluarga itu mengambil duduk di sebelah kananku.
“Kurasa
kita terlalu cepat masuk.” ucap sang istri.
“Ne.
“ jawab suaminya singkat.
“Gwaenchana
appa! Yang penting kita bisa melihat!” seru gadis kecil itu senang sambil
tersenyum riang.
Aku
ikut tersenyum mendengarnya.
“Ah!
Annyeong oppa!” gadis itu menyapaku ramah.
Aku
tersenyum seramah mungkin dan menyodorkan sekantong popcorn. “Ini. Untuk
mengusir kebosanan menunggu!”
Gadis
itu menerimanya dengan sangat ceria. “Gamsahamnida oppa!”
Aku
mengelus kepalanya lembut.
Kurasa
semua impianmu akan terwujud hari ini Eun Hee, batinku.
Membuatku
mengingat kembali masa-masa itu …
-Three Years Ago-
“Sudah
satu tahun tapi kau tetap dingin ya …” celetuk Eun Hee.
Saat
ini kami berdua sedang beristirahat. Menikmati ice coffe di café khusus member.
“Jeongmal?
Aku mengajakmu minum di sini masih kau katakan dingin? Kau sama sekali tidak
peka ya?” tanyaku serius.
“Ne.
Terserah saja. Tapi penampilanmu yang tanpa senyum dan selalu memakai baju
casual malah mencerminkan sifat dinginmu.”
“Sudah
imageku.” jawabku singkat.
“Memang
sih. Karena sangat cocok dengan rambut pirangmu itu. Tapi kurasa kau lebih
tampan jika berpakaian formal. Dan wanita lebih suka pria dengan pakaian
formal. Terlihat sopan dan serius.” jelas Eun Hee ngawur sambil meminum ice
coffenya sampai teguk terakhir. “Ahh! Segar sekali!”
“Cewek
aneh …”
“Biar
saja …” ia memeletiku.
Entah
kenapa sudut bibirku terasa tertarik. Aku ingin tertawa melihat tingkah yeoja
ini. Yeoja yang kusukai ini …
“Oh
iya … Sudah satu tahun aku penasaran akan masalah ini… Boleh aku menyanyakan
sesuatu?”
“Ada
apa?”
“Apakah
Kwangmin dan Rin itu berpacaran?” tanya Eun Hee lirih.
“Ne.
Mereka berpcaran sejak SMP.”
“Begitu
… Sayang sekali …” Eun Hee terlihat lemas.
“Kau
menyukai Kwangie??”
“SSSssssttttt!!!
Jangan keras-keras!” ia menutupi mulutku dengan tanganya.
Aku
hanya mengangguk mengerti. Ternyata selama ini Eun Hee malah menyukai Kwangmin.
Jadi selama ini ia sama sekali tidak pernah melihat ke arahku. Hanya aku saja
yang selalu memperhatikannya.
-NOW-
“Youngie!!!”
teriak seseorang.
Aku
kenal betul suara ini. Suaranya sudah mendarah daging. Suara ini milik
Kwangmin, saudara kembarku. Aku menoleh ke sumber suara. Tak jauh dariku berdiri
seorang namja yang mempunyai tinggi sama denganku. Sudah setahun kami tidak
bertemu tapi ia tetap terlihat ceria. Yang berbeda darinya adalah rambutnya. Ia
memotong pendek rambutnya. Terlihat makin dewasa.
“Hyaaa!!!!
Lama tidak jumpa!!” seru seorang yeoja di sebelah Kwangmin. Ia adalah Kim Soo
Rin. Ia terlihat lebih cantik dengan stylenya yang elegan. Bertolak belakang
dengan sifatnya yang blak-blakan dan ceroboh.
Mereka
berjalan ke arahku secara berdampingan. Mereka mengambil tempat di sebelahku.
Sampai sekarang pun mereka masih tetap bersama. Aku kagum oleh kekuatan cinta
mereka berdua. Aku jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian dua tahun
lalu. Kejadian yang melibatkan mereka terlalu dalam …
-Two Years Ago-
Aku
melihat Eun Hee yang berdiri di dekat tempat para dancer sedang berlatih. Ia
telihat sangat menikmati pemandangan di depannya. Memang dia sedang melihat apa
sih??
“Miss
popcorn, kau lihat apa?” sapaku sambil menghampirinya.
“SSSssst!!!”
ia menarikku dan menutup mulutku.
Aku
melepas bekapannya dari mulutku. Kurasa ia terusik sekali dengan kedatanganku.
Memang ia sedang lihat apa sih?? Kok serius??
“Keren
… Daebak …” ia menggumam.
Aku
melihat ke arah ia memandang. Dan hatiku langsung mencelos. Ternyata itu toh …
Ia sedang mengamati Kwangmin.
Aku
berjalan menajauh darinya. Sudah setahun berlalu tapi Eun Hee masih saja
menyukai Kwangmin. Padahal ia sudah tahu kalau Kwangmin mempunyai Rin.
Begitu
juga aku. Aku masih tetap menyukai Eun Hee meski aku sudah tahu ia menyukai
Kwangmin. Aku mengepalkan tanganku dan menggertakkan gigiku. Sakit ini terlalu
dalam …
“Youngmin!!
Kau dari mana?” sapa Rin sambil berlari ke arahku.
Aku
hanya tersenyum.
“Apa
ada masalah?” ia bertanya sambil menampakkan wajahnya yang ceria itu.
Aku
memandangnya. Wajahnya yang lembut dan manis itu. Dulu aku menyukainya. Tapi
Kwangmin yang berhasil mendapatkannya. Dan sekarang pun yeoja yang kusukai atau
mungkin lebih, karena aku sama sekali tidak berpindah hati hampir setahun, juga
menyukai Kwangmin. Tanpa pikir panjang aku
berjalan gontai ke arah Rin dan memeluknya.
“Ya!
Apa yang …” ia memprotes.
“Sebentar
saja.” ucapku memotong protesannya.
Sebentar
saja. Ya. Aku hanya ingin menenangkan diri. Aku patah hati. Aku patah hati dan
terus menyukai selama hampir setahun. Dadaku sesak dan aku butuh tempat untuk
bersandar. Rin mengelus punggungku dan bergumam lirih. Entah apa tapi rasanya
tenang.
Aku
melepas pelukan itu perlahan dan membiarkan air mata merembes ke pipiku. Rin
tertegun dan mengusap air mata itu dengan lembut. Kurasa ia shock. Aku hampir
tidak pernah menangis.
“Ceritakan
saja semua masalahmu. Aku akan mendengar.” ucapnya lembut.
Aku
menggeleng. “Aku hanya ingin menangis.”
“Ne.
Baiklah kalau begitu …”
Ponselku
berdering kencang. Mengagetkanku yang sedang terbawa dalam suasana canggung
seperti tadi. Aku cepat-cepat mengangkat panggilan itu. Itu nomer Kwangmin.
“Yoboseo.”
“Aku
tinggu di ruang dance.”
Hanya
kalimat itu yang dikatakannya. Ia langsung menutup panggilannya. Ruang dance?
Memang ada apa?
“Aku
harus pergi. Gomawo.”
Aku
sedikit mengencangkan lajuku saat menuju ruang dance. Tidak biasanya Kwangmin
seperti ini. Tanpa basa-basi dan terdengar sangat serius. Apa ada masalah??
Aku
melihat Kwangmin yang berdiri di tengah ruang dance. Di sampingnya ada Eun Hee.
Aku memperlambat langkahku dan hendak menyapanya. Tapi sedetik kemudian
Kwangmin menyadari kehadiranku dan dengan satu gerakan ia membuatku sakit.
Ia
mendekati Eun Hee dan menundukkan kepalanya di depan wajah Eun Hee. Mereka
berdua membelakangiku dan terlihat seperti sedang berciuman. Yeah, berciuman.
“Oppa!!”
teriak Rin kaget.
Aku
tidak menyangka Rin ada di sebelahku. Mungkin ia khwatir denganku hingga
mengikutiku sampai ke sini. Tapi di sini ia malah melihat hal yang tidak
menyenangkan. Aku dan Rin sama-sama terluka dengan perbuatan Kwangmin.
Mungkin
karena menyadari teriakan Rin, Kwangmin mendongak dan melihat ke arah kami. Dia
terlihat sangat shock. Lantas ia berlari menuju ke arah kami. Rin sontak pergi
dari situ menjauhi Kwangmin. Aku hanya terpaku di situ. Dan saat itulah Eun Hee
menoleh kepadaku.
Matanya
sembab dan merah. Tanpa berkata apa-apa ia berlari meninggalkanku. Sekarang
semuanya terasa begitu rumit. Kepalaku jadi makin pusing.
***
Sejak
kejadian itu aku dan Eun Hee jadi jarang saling menyapa. Aku jadi makin jauh
darinya. Tapi itu malah membuatku makin mencintainya. Semakin ia menghindar,
semakin aku ingin mendekap dirinya.
“Youngie
…” panggil Kwangmin lirih dari belakangku.
Aku
hanya diam. Menatapnya dalam diam.
“Aku
ingin bicara. Khaja.”
Aku
menginkuti Kwangmin. Kwangmin lebih muda dariku tapi aku selalu merasa ia yang
lebih dewasa daripada aku. Ia selalu ceria dan aku selalu cemberut. Bukan iri,
tapi kagum. Aku mengagumi Kwangmin yang seperti itu.
“Ini
tentang hal beberapa minggu lalu.” ucap Kwangim memulai pembicaraan di suatu
tempat yang cukup sepi.
“Lanjutkan.”
“Sepertinya
ada salah paham.”
“EH???”
aku kaget.
“Emm,
begini, kurasa aku sudah salah paham. Waktu itu aku melihat kau dan Rin
berpelukan. Kukira kalian yang mengkhianatiku tapi kini aku sadar. Ternyata aku
yang membuatmu cemas. Rin sudah menjelaskan segalanya kepadaku.” jelas Kwangmin
sambil tersenyum samar.
“
Mwo? Apa maksudmu Rin menjelaskan semuanya??” aku masih sedikit heran.
“Yeah,
Rin dan aku tahu segalanya tentangmu.” Kwangmin tersenyum licik. “Tenang saja
Youngie. Aku dan dia tidak ada apa-apa. Kemarin aku hanya berakting saja
dengannya.” tutur Kwangmin menggoda.
“Apaan
sih???” aku makin heran.
“Oh
iya, waktu itu bukan hanya aku saja yang cemburu padamu. Ia menyetujui usulku
untuk berakting ciuman seperti itu karena ingin membuatmu cemas juga. Bahkan
sampai menangis.”
Aku
terpaku di tempat.
“Sudah
ya! Dah …”
Semua
kata-kata Kwangmin membuat detak jantungku makin keras. Semua yang dia katakan
seolah-olah sebenarnya aku tidak patah hati. Seolah-olah aku tidak bertepuk
sebelah tangan.
Bolehkah
aku berharap …. ????
-NOW-
“Youngmin!!!
Aku mau popcornya dong!!” Rin merebut popcorn dari tanganku.
Aku
hanya tersenyum pasrah.
“Aku
berdebar. Aku dengar ini pertunjukan pertamanya.”
Aku
mengagguk bersemangat. “Makadaritu aku berusaha untuk pulang. Padahal mereka
tidak mengizinkanku.”
“Emm.
Mereka mengkhawatirkan keadaanmu.” jawab Kwangmin.
Aku
teringat kembali saat-saat harapan kami semua hampir terwujud. Saat kami semua
sedang dalam sukacita. Dan kesedihan saat semua sukacita itu menghilang.
Menghilang begitu saja. Tapi aku tidak pernah menyesalinya.
-Last Year-
“Youngmin!
Kau terpilih!” seru Kwangmin senang.
Aku
membelalakkan mata dan menatap Kwangmin lekat-lekat. Aku sama sekali tak
percaya! Aku terpilih menjadi peran utama di pertunjukkan berikutnya. Ini
adalah awal debutku.
“Bagus.
Dengan begini kita bertiga bisa satu panggung.” tanggapku senang.
“Bukan
bertiga. Tapi berempat! Eun Hee juga terpilih!!” tambah Rin.
Aku
makin kaget dengan pernyataan itu. Eun Hee juga ikut main! Pasti akan sangat
menyenangkan nantinya. Bermain bersama Eun Hee akan membuatku semangat. Semoga
aku bisa menampilkan yang terbaik untuknya!
“Apa
Eun Hee sudah tahu berita ini??” tanyaku.
Rin
menggeleng. “Aku belum melihatnya sedari tadi. Lebih baik kamu mencarinya dan
memberitahukan ini.”
Aku
mengangguk dan langsung melesat menyusuri gedung. Mencari dimana Eun Hee
berada. Ponselnya tidak aktif. Ini malah menambah kesulitan.
“Apa
ahjussi melihat Eun Hee?” tanyaku ada ahjussi yang sedang mengepel.
“Ah!
Baru saja ia menuju ke atap.” jawabnya.
“Bagus.
Gamsahamnida.”
“Ne.
Hati-hati tangganya licin.”
Aku
mengangguk dan menaiki tangga menuju ke atap gedung. Ini memang tempat favorit
Eun Hee untuk merenung. Tapi sayang sekali ia harus merenung di tengah berita
hangat seperti ini.
“Eun
Hee!!” teriakku.
Ia
menoleh. Rambutnya terbang oleh angin. Cantik sekali …
“Eun
Hee … dengar deh …” tapi sebelum aku meneruskan kata-kataku, aku melihat
tetesan air keluar dari matanya. Ia menangis.
“Ada
apa??” tanyaku lirih.
Ia
menggeleng pelan lalu menghambur dalam pelukanku.
“Ada
apa??” tanyaku sambil mengelus kepalanya.
Ia
terisak dan terus terisak. Aku membiarkan keadaan seperti ini selama beberapa
menit. Aku kasihan padanya yang tiba-tiba menangis seperti ini, tapi aku juga
berdebar karena ia memelukku.
Ia
mulai berhenti menangis dan melepas pelukannya. Kurasa ini saat yang tepat
untuk memberitahunya. Satu berita bagus mungkin akan membuatnya tersenyum lagi.
“Eun
Hee, dengar deh.”
Ia
menatapku penasaran.
“Kamu
lolos. Kita akan beraksi di pertunjukkan selanjutnya.”
Namun
ternyata kata-kata itu malah membuatnya makin terisak. Malah membuatnya
kelihatan makin tertekan. Wajahnya memerah dan terlihat putus asa.
“Aku
tidak bisa!!” teriaknya histeris.
“Wae?”
“Orang
tuaku meninggal. Harta mereka sudah di renggut oleh semua saudaraku. Untuk itu
aku harus meninggalkan ini semua dan mulai mengurus rumah. Ukh … Aku …” ia
mulai terisak lagi.
Aku
mengelus kepalanya lagi. “Tenang. Serahkan semua padaku.”
“Andwae!!”
ia menepis tanganku. “Jangan sekali-kali kau mengasihani aku! Aku bisa sendiri!
Babo!!”
Ia
hendak pergi meninggalkan aku, tapi aku menahannya. Aku meraih tangannya dan
mendekapnya erat. Secara perlahan aku mengangkat dagunnya dan memautkan bibir
kami berdua.
“Jeongmal
saranghae …” ucapku lirih
Eun
Hee tertawa getir. Ia meremas lenganku.
“Naddo.
Dari dulu.” ia makin terisak. “Tapi terlambat. Mianhae.” ia menepis lenganku
dan berlari pergi.
“Eun
Hee!!!!” teriakku.
Ia
terus berlari. Aku pun mengejarnya. Cinta yang selama ini ku pertahankan tak
akan kulepas semudah ini. Meski aku harus tertatih untuk mengejarnya. Aku akan
melindunginya. Aku akan membuatnya bertahan di sini tanpa harus melupakan
tanggung jawabnya di rumah. Aku akan membantunya.
Eun
Hee terus berlari mengeluari gedung. Mungkin karena galau ia tidak
berkonsentrasi. Dan saat itulah aku baru percaya tentang adegan adegan heroik
di mana seorang pria menyelamatkan gadisnya dari kecelakaan. Saat itu rasanya
dunia benar-benar berputar. Terasa begitu menyakitkan.
Aku
masih sempat melihat Eun Hee yang kudorong ke depan menghindari tabrakan mobil.
Eun Hee segera kembali kepadaku. Ia masih menangis. Air mata itu terlalu
sia-sia jika ditujukan untukku.
“Tenang
saja.” ucapku lirih.
Ia
menggeleng.
“Payah
sekali. Padahal aku ingin membuatmu tersenyum, tapi kamu malah menangis. Ayolah
Hee-ahh. Apakah pengorbananku ini harus di sambut oleh tangis?” aku berusah
menghiburnya. Kurasakan darah hangat mengalir dari dalam mulutku.
Aku
ingin beranjak dari sana karena orang-orang telah mengerubungi kami berdua.
Mereka terlihat sangat shock melihat keadaanku. Aku hendak berdiri, tapi kakiku
mati rasa. Aku tidak bisa merasakan kakiku.
“Ahh
…” gumamku lirih saat melihat kakiku.
“Tenang.
Pasti sembuh…” Eun Hee menggenggam tanganku sambil terus menangis.
Aku
menggeleng. “Kurasa aku sudah tidak bisa menari lagi. Kurasa kakiku sudah patah
…”
“Jangan
katakan itu!!” Eun Hee setengah berteriak.
“Eun
Hee, aku ingin kau meneruskan impianku. Tetaplah menari dan menyanyi di sini.
Kwangmin akan membantumu. Jeongmal saranghae, chaggi … Biarkanlah musik
menuntunmu …” rintihku.
Saat
itu rasanya semua menjadi gelap. Sesaat aku bisa melihat Kwangmin dan Rin yang
berlari ke arah kami berdua. Lalu yang terakhir kali aku lihat saat itu adalah
wajahnya. Wajah yeoja yang sangat kucinta, Park Eun Hee.
-NOW-
Pertunjukkan
itu di akhiri dengan sangat indah. Aku sampai menangis terharu. Begitu juga
Kwangmin dan Rin.
“Babo!
Kau menangis! Padahal Happy end!” celetuk Rin sambil menjitak kepala Kwangmin.
“Ya!
Jangan salahkan aku! Aku menangis bukan karena ceritanya!” jawab Kwangmin.
Aku
mengangguk pelan sambil terus menatap ke panggung. Memang kami menangis bukan
karena ceritanya. Tapi karena orang yang sekarang sedang berdiri di atasnya.
Ya,
dialah Park Eun Hee.
Gemuruh
tepuk tangan membahana dari semua penonton. Aku memperhatikan keluarga yang
tadi menyapaku. Gadis kecil itu terlihat sangat menikmati sambil tersenyum
lebar-lebar.
“Aku
ingin seperti kakak yang itu!” ucap gadis kecil itu sambil menunjuk Eun Hee.
Aku
tersenyum.
“Youngmin,
ayo kita temui Eun Hee.” ajak Rin.
Aku
mengangguk.
Kwangmin
secara otomatis membantuku berjalan. Ia memampahku menuju pada pelayanku di
luar ruangan yang setia menungguku.
“Ahjussi,
biarkan Kwangmin dan Rin yang menemaniku.” ucapku kepadanya.
“Ne.
Hati-hati Tuan …”
Kwangmin
membantuku duduk di kursi roda. Aku masih ingat saat dokter mengatkan bahwa aku
lumpuh. Semua dikarenakan kecelakaan tahun lalu. Saat aku menyelamatkan Eun
Hee. Tapi aku tidak pernah menyesalinya. Bahkan aku bersyukur karenanya.
“Apa
enak hidup di Amerika?” tanya Kwangmin sambil mendorong kursi rodaku.
“Ani.
Aku lebih suka Seoul. Tapi yah bagaimana lagi, aku harus kesana untuk
menyembuhkan kakiku …” jawabku sambil menoleh kepadanya.
“Kami
sangat menrindukanmu!!” seru Rin sambil mencubit pipiku.
“Jangan
halangi jalan chaggi!!” seru Kwangmin.
“Ya!
Wae??” ia mulai menantang.
“Kau
memperlambat!” jawab Kwangmin sengit.
“Sudah,
sudah. Jangan bertengkar. Kalian kan sudah bertunangan.” aku melerai mereka.
Bisa bahaya kalau pertengkaran konyol tadi diteruskan.
“Ne!
Lihat deh!!” Rin menunjukkan cicinnya dengan semangat.
Aku
tersenyum sedang Kwangmin berdeham menahan malu.
“Aku
harap kau pun bisa seperti kami. Atau mungkin lebih …” tiba-tiba Rin menjadi
serius.
Aku
mengangguk lemas. Kali ini aku akan mengungkapkan perasaanku sekali lagi. Aku
harap ia bisa menerimaku.
“Tinggalkan
aku. Aku akan melanjutkannya sendirian.”
Aku
meninggalkan Rin dan Kwangmin di belakang dan mengendarai kursi rodaku
sendirian.Aku akan melanjutkan sekarang sendirian. Aku akan menemui Park Eun
Hee.
>>Park Eun Hee PoV
Aku
berjalan melewati koridor. Baru saja aku menyelesaikan pertunjukkan. Rasanya
seperti mimpi. Tahun lalu aku menunda pertunjukkanku karea insiden menyakitkan
itu. Insiden yang membuatku harus berhenti untuk sesaat karena shock. Tapi
sekarang rasanya semuanya telah terwujud.
Ingatanku
melayang kejadian empat tahun lalu saat aku bertemu dengannya. Saat itu ia
masih congkak. Beda dengan saudara kembarnya. Alhasil aku menyukai saudaranya.
Tapi entah kenapa mata ini tidak bisa lepas dari pesonamu. Semua tatapanmu,
senyummu, aromamu, segela hal tentangmu telah merasuk pada pikiranku. Tapi sudah setahun kau menghilang sejak saat
itu. Sejak kau menyelamatkan aku yang bodoh ini.
“Eun
Hee …”
Air
mataku hampir menetes saat mendengar suara ini. Aku teringat segalanya. Aku
jadi teringat semuanya. Tapi sudah terlambat. Aku sudah membuatnya tidak bisa
menari lagi. Aku sudah membuat ia kecewa. Aku menunduk menyembunyikan
mukaku dari orang yang sedang berjalan
di koridor.
Lalu
lama-lama aku berjongkok dan menumpahkan air mataku.
Tiba-tiba
perasaanku membuncah dan tidak terkendali. Aku merindukannya! Aku ingin
bertemu! Aku mencintainya!
“Youngmin
… huhuhuhuhu …”
“Ada
apa?”
Aku
mengehentikan tangisku. Suara ini? Suara yang sama persis! Nada dingin dan
acuhnya sama persis!
Aku
mendongak dan menatap lekat-lekat orang di depanku. Ia duduk di kursi roda.
Menggunakan blazer dan terkesan sangat formal. Namun rambutnya tetap pirang.
“Ka
… Kau …” aku terbata.
Ia
tersenyum. Aku berdiri di hadapannya. Aku menepuk pipiku. Aku takut ini mimpi.
Tapi ini kenyataan. Yang ada di depanku sekarang adalah orang itu. Jo Youngmin.
Ia
tersenyum dan bertanya .“Apa aku terlambat untuk memilikimu?”
-END-
wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk
cuma
ini yang bisa aku persembahkan.
Terlalu
cepat ya? Habis aku bingung …
Mian
deh kalo gak ada feelnya sama sekali …
Jeongmal
GOMAWO udah mau baca …