Kamis, 01 Mei 2014

FANFICTION Title : Let The Music Be Your Guide



Title    : Let The Music Be Your Guide
Genre  : Romance
>>Ini murni imajinasi Author. Tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian atau hal apa pun. DON’T COPAS!!!!

FF ini dedicated for my bestfriend untuk ultahnya …
Hope u like this … ^^
Saengil Chukkahaeyo Nao-ssi ….

Oh iya, aku juga muncul neee …
Author kudu tetap eksis dong …
RCL ya chingudeul!!!

Happy Reading all … ^^

OneShoot

Cast    :
Nao  as Park Eun Hee
Jo Youngmin (Boyfriend) as himself

Numpang nama : (hahahay)
Yuanisa Aulya Abdi (author) as Kim Soo Rin
Jo Kwangmin (Boyfriend) as himself



>> Jo Youngmin PoV
Aku duduk termenung di bangku penonton. Gedung teater ini masih sangatlah sepi. Tapi aku sudah tidak sabar melihat pertunjukan ini. Aku sudah mengenakan pakaian formal. Dan kurasa aku juga sudah cukup mempesona. Aku sudah berulang kali belajar tersenyum dengan benar di depan cermin.
Aku melihat arloji di tanganku.
“Masih satu jam lagi … Lama sekali …” desahku.
Aku melihat ke sekitar gedung dengan gelisah. Masih belum ada satu orang pun yang memasuki ruangan. Aku menyebar pandangan ke seluruh penjuru gedung teater ini. Aku melihat altar panggung yang megah itu. Panggung itu masih kosong. Tirai panggung itu masih di tutup.
Aku menggenggam erat penganggan di bangku itu. Di bangku ini aku pertama kali betemu dengannya. Di sinilah semuanya berawal.
“Ah … Kenangan …” gumamku lirih.
Entah kenapa beribu-ribu ingatan itu kini muncul lagi. Memenuhi ruangan di kepalaku dan hatiku.

-Four Years Ago-
Aku berlari kencang menyusuri jalanan kota Seoul. Aku menabarak beberapa orang dan tidak mempedulikannya. Beberapa orang meneriaki aku tapi aku tak mempedulikannya.
“Hati-hati kalau jalan!!” seru seseorang yang kutabrak.
Aku malah menoleh sekilas kepadanya dengan tajam. Orang itu langsung diam dan mengangguk ketakutan.
Bah! Dasar Pengecut! Menghambat saja!
Aku melanjutkan lariku.
Aku memperlambat lariku dan sedikit lega saat melihat gedung teater itu. Gedung itu ramai karena akan ada pertunjukkan.
“Ya! Youngmin! Kau telat! Cepat masuk!” panggil Rin sambil melambai ke arahku.
Aku berderap menuju yeoja bernama Kim Soo Rin itu.
“Mana Kwangmin?” tanyaku sambil menghirup nafas panjang.
“Dia dan aku sudah mulai daritadi. Sekarang aku sedang istirahat sedangkan Kwangmin masih mau latihan.” jelasnya sambil menyeruput milk shake vanilla di tangan kanannya.
“Begitu. Apa pertunjukannya sudah mulai?”
“Ne. Mau dimulai. Kita bertiga lihat bersama yuk! Sebagai referensi!” Rin menarik tanganku memasuki gedung megah itu.
Kami menyusuri ruangan yang di desain secara klasik. Banyak sekali orang-orang yang sedang berkunjung ke situ. Sangat amat banyak.
“Youngie! Rin!” teriak Kwangmin di sebuah ambang pintu.
Aku dan Rin berderap menuju namja kembaranku itu.
“Pertunjukan sudah mau dimulai. Khaja!” Kwangmin menggenggam tangan  Rin.
Membuatku iri sekali. Mereka berdua sangat mesra. Membuatku iri. Aku sengaja berjalan lambat di belakang mereka. Tapi kurasa keputusanku itu sangatlah salah! Karena akibatnya aku jadi duduk jauh terpisah dari mereka.
“Aisshh.” aku menghempaskan diriku di salah satu kursi dengan kesal.
Tirai panggung mulai dibuka dan musik mulai mengalun indah. Drama musical kali ini akan dimulai. Pertunjukan perdana yang sangat ramai. Aku berharap suatu saat nanti aku juga akan berdiri di panggung itu. Bermain dengan penuh semangat dan menjadi terkenal.
“Kau mau popcorn?” tawar seorang yeoja dengan suara yang lucu.
Aku menoleh ke kiri ke arah yeoja dengan senyum lucu itu. Ia menyodorkan sekantong popcorn kepadaku.
“Mau atau tidak?” tawarnya sekali lagi sambil mengunyah.
Aku hanya mendesah panjang. Bisa-bisanya yeoja ini berkelakuan seperti ini.
“Ini bukan bioskop. Ini gedung teater. Arra?”
“Lantas?”
“Baru kali ini aku melihat seseorang membawa popcorn ke gedung teater. Apa ini pengalaman pertamamu?”
“Ya sudah kalau tidak mau.” ia mengalihkan pandangannya dan fokus kepada pertunjukkan. “kasar sekali.” celetuknya.
Mau tidak mau aku harus menggeram karena amarah. Yeoja ini menyebalkan sekali. Sudah kelihatan udiknya tapi masih mengejek. Memang dia bisa apa sih???
“Sudah. Berhenti memelototi aku. Risih.”
Aku tersentak kaget. Dasar yeoja aneh!
Pertunjukan berlangsung dengan sukses. Performa yang dibawakan oleh para bintang-bintang di panggung sangatlah bagus dan mempesona. Aku yakin suatu saat aku pasti bisa menunjukkan bakatku kepada dunia dengan berdiri di panggung itu.
“Wah! Gerakannya tertinggal beberapa detik …” gumam yeoja menyebalkan di sebelahku.
Apa maksudnya? Aku melihat ke arah dia melihat. Yeoja itu melihat ke arah seorang penari latar yang kelihatannya sedang menyesuaikan gerakan.
Tertinggal beberapa detik.
Jeli sekali yeoja ini. Aneh …
“Bagaimana kau tahu?” tanyaku spontan sambil menoleh ke arahnya yang masih sibuk dengan popcorn.
“Entah. Mataku selalu menagkap hal-hal detail seperti itu. Aneh ya?” jawabnya sambil tetap fokus ke pertunjukan.
Tatapan gadis itu terfokus ke arah panggung. Seperti meneliti semua proses pertunjukkan. Matanya seakan bersinar-sinar melihat drama musical itu.
“Suatu saat nanti aku akan berdiri di panggung itu dan menampilkan yang terbaik!” yeoja itu bergumam lirih dengan penuh semangat.

******

“Kenapa kau memisahkan diri Yongie??” tanya Kwangmin sambil mengelayut manja di lenganku.
“Aku tidak bisa menembus tribun penonton.” jawabku asal.
“Hmmm … Latihan yuk?”
Aku mengangguk dan berjalan menuju ke ruang latihan yang terletak di lantai dua. Ruang latihan itu sudah ramai dengan beberapa orang yang seumuran dengan kami. Mereka menyambut kami dengan hangat. Seperti biasanya aku hanya membalas sambutan itu dengan anggukan tanpa senyum.
“Youngmin keren sekali …” ucap salah seorang yeoja yang entah siapa dia. Aku tak mengenalnya meski sering bertemu.
Aku tak mempedulikannya dan terus berjalan menju ke ruang ganti. Mengganti pakainku hanya dengan kaus dan celana training selutut.
Aku membuka pintu ruang ganti dan tersentak keget melihat orang di depanku.
Orang itu adalah yeoja menyebalkan tadi. Si tukang makan popcorn.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku.
“Minggir. Aku mau ganti.” ia menyingkirkan aku dari pintu dan berderap masuk.
Yeoja itu menutup pintu dengan kasar.
Aku masih sangat penasaran dengan apa yang dia lakukan di sini. Tapi semua itu terjawab saat latihan di mulai. Ia memperkenalkan diri kepada yang lain sebagai member baru.
“Jooneun Park Eun Hee imnida.” ia memperkenalkan diri sambil menunjukkan senyumnya yang lucu itu. “Mohon bantuannya!” ucapnya sambil membungkuk.
Selama latihan mataku terus saja mengikuti gerak gerik Eun Hee. Ia member baru, tapi kenapa sudah bisa melakukan maneuver-manuver yang sulit! Aku bahkan baru bisa melakukan hal itu setelah 5 bulan bergabung! Menyebalkan …
“Eun Hee!! Kau hebat!” puji Rin riang.
“Biasa saja! Eonnie lebih hebat!” balas Eun Hee sambil terengah.
“Jangan panggil Eonnie! Panggil Rin saja…”
“Ne. Rin-ssi …”
“Begitu baru bagus Hee-ahh …”
Kwangmin menggelayut di bahuku sambil mengelap keringatnya.
“Anak baru itu lumayan.” komentarnya.
“Biasa saja.” jawabku datar.
“Dasar Mr. Cool. Bersikaplah sedikit ramah kepada anak baru untuk membuatnya lebih nyaman.” saran Kwangmin sambil memukul dadaku.
“Tidak ada urusannya denganku …”

******

Kwangmin dan Rin sudah duluan menuju ke kedai kopi. Aku sengaja tinggal lebih lama karena malas jika harus melihat dua orang itu bermesraan terus. Membuat iri.
Aku samar-samar mendengar alunan musik. Kurasa ini adalah musik yang tadi diputar saat pertunjukan. Tapi yang ini beda. Alunan ini mirip suara dari piano.
Aku berjingkat-jingkat menuju ke ruang latihan. Suara musik yang lembut dan ceria mengalun dengan sempurna dari audio. Samar-samar terdengar suara piano yang seirama.
Aku melihat Eun Hee memainkan piano sambil bernyanyi dengan lembut. Tidak kusangka suaranya semerdu ini. Jarinya dengan ahli memencet tuts piano itu.
Ia mengehentikan permainan pianonya saat musik mulai mengehentak. Ia melangkah dengan anggun dan mulai dengan dance. Sama sekali tidak terlihat seperti pemula.
Hal yang dilakukannya hari itu membuatku terpesona. Membuatku hanya menatapnya. Wajahnya yang serius dan ceria saat beraksi adalah yang paling cantik. Yeoja-menyebalkan-pecinta popcorn-yang misterius ini membuatku jatuh hati. Menyebalkan sekali. Menyebalkan sekali karena aku harus jatuh cinta kepadanya …


-NOW-

Aku melihat arloji lagi dengan sebal. Masih lama.
Bangku-bangku mulai terisi oleh beberapa orang. Penonton itu terlihat sangat antusias.
Seorang keluaraga kecil yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang putri kecil memasuki ruangan ini. Keluarga itu mengambil duduk di sebelah kananku.
“Kurasa kita terlalu cepat masuk.” ucap sang istri.
“Ne. “ jawab suaminya singkat.
“Gwaenchana appa! Yang penting kita bisa melihat!” seru gadis kecil itu senang sambil tersenyum riang.
Aku ikut tersenyum mendengarnya.
“Ah! Annyeong oppa!” gadis itu menyapaku ramah.
Aku tersenyum seramah mungkin dan menyodorkan sekantong popcorn. “Ini. Untuk mengusir kebosanan menunggu!”
Gadis itu menerimanya dengan sangat ceria. “Gamsahamnida oppa!”
Aku mengelus kepalanya lembut.
Kurasa semua impianmu akan terwujud hari ini Eun Hee, batinku.
Membuatku mengingat kembali masa-masa itu …

-Three Years Ago-
“Sudah satu tahun tapi kau tetap dingin ya …” celetuk Eun Hee.
Saat ini kami berdua sedang beristirahat. Menikmati ice coffe di café khusus member.
“Jeongmal? Aku mengajakmu minum di sini masih kau katakan dingin? Kau sama sekali tidak peka ya?” tanyaku serius.
“Ne. Terserah saja. Tapi penampilanmu yang tanpa senyum dan selalu memakai baju casual malah mencerminkan sifat dinginmu.”
“Sudah imageku.” jawabku singkat.
“Memang sih. Karena sangat cocok dengan rambut pirangmu itu. Tapi kurasa kau lebih tampan jika berpakaian formal. Dan wanita lebih suka pria dengan pakaian formal. Terlihat sopan dan serius.” jelas Eun Hee ngawur sambil meminum ice coffenya sampai teguk terakhir. “Ahh! Segar sekali!”
“Cewek aneh …”
“Biar saja …” ia memeletiku.
Entah kenapa sudut bibirku terasa tertarik. Aku ingin tertawa melihat tingkah yeoja ini. Yeoja yang kusukai ini …
“Oh iya … Sudah satu tahun aku penasaran akan masalah ini… Boleh aku menyanyakan sesuatu?”
“Ada apa?”
“Apakah Kwangmin dan Rin itu berpacaran?” tanya Eun Hee lirih.
“Ne. Mereka berpcaran sejak SMP.”
“Begitu … Sayang sekali …” Eun Hee terlihat lemas.
“Kau menyukai Kwangie??”
“SSSssssttttt!!! Jangan keras-keras!” ia menutupi mulutku dengan tanganya.
Aku hanya mengangguk mengerti. Ternyata selama ini Eun Hee malah menyukai Kwangmin. Jadi selama ini ia sama sekali tidak pernah melihat ke arahku. Hanya aku saja yang selalu memperhatikannya.
-NOW-

“Youngie!!!” teriak seseorang.
Aku kenal betul suara ini. Suaranya sudah mendarah daging. Suara ini milik Kwangmin, saudara kembarku. Aku menoleh ke sumber suara. Tak jauh dariku berdiri seorang namja yang mempunyai tinggi sama denganku. Sudah setahun kami tidak bertemu tapi ia tetap terlihat ceria. Yang berbeda darinya adalah rambutnya. Ia memotong pendek rambutnya. Terlihat makin dewasa.
“Hyaaa!!!! Lama tidak jumpa!!” seru seorang yeoja di sebelah Kwangmin. Ia adalah Kim Soo Rin. Ia terlihat lebih cantik dengan stylenya yang elegan. Bertolak belakang dengan sifatnya yang blak-blakan dan ceroboh.
Mereka berjalan ke arahku secara berdampingan. Mereka mengambil tempat di sebelahku. Sampai sekarang pun mereka masih tetap bersama. Aku kagum oleh kekuatan cinta mereka berdua. Aku jadi senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian dua tahun lalu. Kejadian yang melibatkan mereka terlalu dalam …

-Two Years Ago-

Aku melihat Eun Hee yang berdiri di dekat tempat para dancer sedang berlatih. Ia telihat sangat menikmati pemandangan di depannya. Memang dia sedang melihat apa sih??
“Miss popcorn, kau lihat apa?” sapaku sambil menghampirinya.
“SSSssst!!!” ia menarikku dan menutup mulutku.
Aku melepas bekapannya dari mulutku. Kurasa ia terusik sekali dengan kedatanganku. Memang ia sedang lihat apa sih?? Kok serius??
“Keren … Daebak …” ia menggumam.
Aku melihat ke arah ia memandang. Dan hatiku langsung mencelos. Ternyata itu toh … Ia sedang mengamati Kwangmin.
Aku berjalan menajauh darinya. Sudah setahun berlalu tapi Eun Hee masih saja menyukai Kwangmin. Padahal ia sudah tahu kalau Kwangmin mempunyai Rin.
Begitu juga aku. Aku masih tetap menyukai Eun Hee meski aku sudah tahu ia menyukai Kwangmin. Aku mengepalkan tanganku dan menggertakkan gigiku. Sakit ini terlalu dalam …
“Youngmin!! Kau dari mana?” sapa Rin sambil berlari ke arahku.
Aku hanya tersenyum.
“Apa ada masalah?” ia bertanya sambil menampakkan wajahnya yang ceria itu.
Aku memandangnya. Wajahnya yang lembut dan manis itu. Dulu aku menyukainya. Tapi Kwangmin yang berhasil mendapatkannya. Dan sekarang pun yeoja yang kusukai atau mungkin lebih, karena aku sama sekali tidak berpindah hati hampir setahun, juga menyukai Kwangmin.  Tanpa pikir panjang aku berjalan gontai ke arah Rin dan memeluknya.
“Ya! Apa yang …” ia memprotes.
“Sebentar saja.” ucapku memotong protesannya.
Sebentar saja. Ya. Aku hanya ingin menenangkan diri. Aku patah hati. Aku patah hati dan terus menyukai selama hampir setahun. Dadaku sesak dan aku butuh tempat untuk bersandar. Rin mengelus punggungku dan bergumam lirih. Entah apa tapi rasanya tenang.
Aku melepas pelukan itu perlahan dan membiarkan air mata merembes ke pipiku. Rin tertegun dan mengusap air mata itu dengan lembut. Kurasa ia shock. Aku hampir tidak pernah menangis.
“Ceritakan saja semua masalahmu. Aku akan mendengar.” ucapnya lembut.
Aku menggeleng. “Aku hanya ingin menangis.”
“Ne. Baiklah kalau begitu …”
Ponselku berdering kencang. Mengagetkanku yang sedang terbawa dalam suasana canggung seperti tadi. Aku cepat-cepat mengangkat panggilan itu. Itu nomer Kwangmin.
“Yoboseo.”
“Aku tinggu di ruang dance.”
Hanya kalimat itu yang dikatakannya. Ia langsung menutup panggilannya. Ruang dance? Memang ada apa?
“Aku harus pergi. Gomawo.”
Aku sedikit mengencangkan lajuku saat menuju ruang dance. Tidak biasanya Kwangmin seperti ini. Tanpa basa-basi dan terdengar sangat serius. Apa ada masalah??
Aku melihat Kwangmin yang berdiri di tengah ruang dance. Di sampingnya ada Eun Hee. Aku memperlambat langkahku dan hendak menyapanya. Tapi sedetik kemudian Kwangmin menyadari kehadiranku dan dengan satu gerakan ia membuatku sakit.
Ia mendekati Eun Hee dan menundukkan kepalanya di depan wajah Eun Hee. Mereka berdua membelakangiku dan terlihat seperti sedang berciuman. Yeah, berciuman.
“Oppa!!” teriak Rin kaget.
Aku tidak menyangka Rin ada di sebelahku. Mungkin ia khwatir denganku hingga mengikutiku sampai ke sini. Tapi di sini ia malah melihat hal yang tidak menyenangkan. Aku dan Rin sama-sama terluka dengan perbuatan Kwangmin.
Mungkin karena menyadari teriakan Rin, Kwangmin mendongak dan melihat ke arah kami. Dia terlihat sangat shock. Lantas ia berlari menuju ke arah kami. Rin sontak pergi dari situ menjauhi Kwangmin. Aku hanya terpaku di situ. Dan saat itulah Eun Hee menoleh kepadaku.
Matanya sembab dan merah. Tanpa berkata apa-apa ia berlari meninggalkanku. Sekarang semuanya terasa begitu rumit. Kepalaku jadi makin pusing.

***

Sejak kejadian itu aku dan Eun Hee jadi jarang saling menyapa. Aku jadi makin jauh darinya. Tapi itu malah membuatku makin mencintainya. Semakin ia menghindar, semakin aku ingin mendekap dirinya.
“Youngie …” panggil Kwangmin lirih dari belakangku.
Aku hanya diam. Menatapnya dalam diam.
“Aku ingin bicara. Khaja.”
Aku menginkuti Kwangmin. Kwangmin lebih muda dariku tapi aku selalu merasa ia yang lebih dewasa daripada aku. Ia selalu ceria dan aku selalu cemberut. Bukan iri, tapi kagum. Aku mengagumi Kwangmin yang seperti itu.
“Ini tentang hal beberapa minggu lalu.” ucap Kwangim memulai pembicaraan di suatu tempat yang cukup sepi.
“Lanjutkan.”
“Sepertinya ada salah paham.”
“EH???” aku kaget.
“Emm, begini, kurasa aku sudah salah paham. Waktu itu aku melihat kau dan Rin berpelukan. Kukira kalian yang mengkhianatiku tapi kini aku sadar. Ternyata aku yang membuatmu cemas. Rin sudah menjelaskan segalanya kepadaku.” jelas Kwangmin sambil tersenyum samar.
“ Mwo? Apa maksudmu Rin menjelaskan semuanya??” aku masih sedikit heran.
“Yeah, Rin dan aku tahu segalanya tentangmu.” Kwangmin tersenyum licik. “Tenang saja Youngie. Aku dan dia tidak ada apa-apa. Kemarin aku hanya berakting saja dengannya.” tutur Kwangmin menggoda.
“Apaan sih???” aku makin heran.
“Oh iya, waktu itu bukan hanya aku saja yang cemburu padamu. Ia menyetujui usulku untuk berakting ciuman seperti itu karena ingin membuatmu cemas juga. Bahkan sampai menangis.”
Aku terpaku di tempat.
“Sudah ya! Dah …”
Semua kata-kata Kwangmin membuat detak jantungku makin keras. Semua yang dia katakan seolah-olah sebenarnya aku tidak patah hati. Seolah-olah aku tidak bertepuk sebelah tangan.
Bolehkah aku berharap …. ????
-NOW-

“Youngmin!!! Aku mau popcornya dong!!” Rin merebut popcorn dari tanganku.
Aku hanya tersenyum pasrah.
“Aku berdebar. Aku dengar ini pertunjukan pertamanya.”
Aku mengagguk bersemangat. “Makadaritu aku berusaha untuk pulang. Padahal mereka tidak mengizinkanku.”
“Emm. Mereka mengkhawatirkan keadaanmu.” jawab Kwangmin.
Aku teringat kembali saat-saat harapan kami semua hampir terwujud. Saat kami semua sedang dalam sukacita. Dan kesedihan saat semua sukacita itu menghilang. Menghilang begitu saja. Tapi aku tidak pernah menyesalinya.

-Last Year-

“Youngmin! Kau terpilih!” seru Kwangmin senang.
Aku membelalakkan mata dan menatap Kwangmin lekat-lekat. Aku sama sekali tak percaya! Aku terpilih menjadi peran utama di pertunjukkan berikutnya. Ini adalah awal debutku.
“Bagus. Dengan begini kita bertiga bisa satu panggung.” tanggapku senang.
“Bukan bertiga. Tapi berempat! Eun Hee juga terpilih!!” tambah Rin.
Aku makin kaget dengan pernyataan itu. Eun Hee juga ikut main! Pasti akan sangat menyenangkan nantinya. Bermain bersama Eun Hee akan membuatku semangat. Semoga aku bisa menampilkan yang terbaik untuknya!
“Apa Eun Hee sudah tahu berita ini??” tanyaku.
Rin menggeleng. “Aku belum melihatnya sedari tadi. Lebih baik kamu mencarinya dan memberitahukan ini.”
Aku mengangguk dan langsung melesat menyusuri gedung. Mencari dimana Eun Hee berada. Ponselnya tidak aktif. Ini malah menambah kesulitan.
“Apa ahjussi melihat Eun Hee?” tanyaku ada ahjussi yang sedang mengepel.
“Ah! Baru saja ia menuju ke atap.” jawabnya.
“Bagus. Gamsahamnida.”
“Ne. Hati-hati tangganya licin.”
Aku mengangguk dan menaiki tangga menuju ke atap gedung. Ini memang tempat favorit Eun Hee untuk merenung. Tapi sayang sekali ia harus merenung di tengah berita hangat seperti ini.
“Eun Hee!!” teriakku.
Ia menoleh. Rambutnya terbang oleh angin. Cantik sekali …
“Eun Hee … dengar deh …” tapi sebelum aku meneruskan kata-kataku, aku melihat tetesan air keluar dari matanya. Ia menangis.
“Ada apa??” tanyaku lirih.
Ia menggeleng pelan lalu menghambur dalam pelukanku.
“Ada apa??” tanyaku sambil mengelus kepalanya.
Ia terisak dan terus terisak. Aku membiarkan keadaan seperti ini selama beberapa menit. Aku kasihan padanya yang tiba-tiba menangis seperti ini, tapi aku juga berdebar karena ia memelukku.
Ia mulai berhenti menangis dan melepas pelukannya. Kurasa ini saat yang tepat untuk memberitahunya. Satu berita bagus mungkin akan membuatnya tersenyum lagi.
“Eun Hee, dengar deh.”
Ia menatapku penasaran.
“Kamu lolos. Kita akan beraksi di pertunjukkan selanjutnya.”
Namun ternyata kata-kata itu malah membuatnya makin terisak. Malah membuatnya kelihatan makin tertekan. Wajahnya memerah dan terlihat putus asa.
“Aku tidak bisa!!” teriaknya histeris.
“Wae?”
“Orang tuaku meninggal. Harta mereka sudah di renggut oleh semua saudaraku. Untuk itu aku harus meninggalkan ini semua dan mulai mengurus rumah. Ukh … Aku …” ia mulai terisak lagi.
Aku mengelus kepalanya lagi. “Tenang. Serahkan semua padaku.”
“Andwae!!” ia menepis tanganku. “Jangan sekali-kali kau mengasihani aku! Aku bisa sendiri! Babo!!”
Ia hendak pergi meninggalkan aku, tapi aku menahannya. Aku meraih tangannya dan mendekapnya erat. Secara perlahan aku mengangkat dagunnya dan memautkan bibir kami berdua.
“Jeongmal saranghae …” ucapku lirih
Eun Hee tertawa getir. Ia meremas lenganku.
“Naddo. Dari dulu.” ia makin terisak. “Tapi terlambat. Mianhae.” ia menepis lenganku dan berlari pergi.
“Eun Hee!!!!” teriakku.
Ia terus berlari. Aku pun mengejarnya. Cinta yang selama ini ku pertahankan tak akan kulepas semudah ini. Meski aku harus tertatih untuk mengejarnya. Aku akan melindunginya. Aku akan membuatnya bertahan di sini tanpa harus melupakan tanggung jawabnya di rumah. Aku akan membantunya.
Eun Hee terus berlari mengeluari gedung. Mungkin karena galau ia tidak berkonsentrasi. Dan saat itulah aku baru percaya tentang adegan adegan heroik di mana seorang pria menyelamatkan gadisnya dari kecelakaan. Saat itu rasanya dunia benar-benar berputar. Terasa begitu menyakitkan.
Aku masih sempat melihat Eun Hee yang kudorong ke depan menghindari tabrakan mobil. Eun Hee segera kembali kepadaku. Ia masih menangis. Air mata itu terlalu sia-sia jika ditujukan untukku.
“Tenang saja.” ucapku lirih.
Ia menggeleng.
“Payah sekali. Padahal aku ingin membuatmu tersenyum, tapi kamu malah menangis. Ayolah Hee-ahh. Apakah pengorbananku ini harus di sambut oleh tangis?” aku berusah menghiburnya. Kurasakan darah hangat mengalir dari dalam mulutku.
Aku ingin beranjak dari sana karena orang-orang telah mengerubungi kami berdua. Mereka terlihat sangat shock melihat keadaanku. Aku hendak berdiri, tapi kakiku mati rasa. Aku tidak bisa merasakan kakiku.
“Ahh …” gumamku lirih saat melihat kakiku.
“Tenang. Pasti sembuh…” Eun Hee menggenggam tanganku sambil terus menangis.
Aku menggeleng. “Kurasa aku sudah tidak bisa menari lagi. Kurasa kakiku sudah patah …”
“Jangan katakan itu!!” Eun Hee setengah berteriak.
“Eun Hee, aku ingin kau meneruskan impianku. Tetaplah menari dan menyanyi di sini. Kwangmin akan membantumu. Jeongmal saranghae, chaggi … Biarkanlah musik menuntunmu …” rintihku.
Saat itu rasanya semua menjadi gelap. Sesaat aku bisa melihat Kwangmin dan Rin yang berlari ke arah kami berdua. Lalu yang terakhir kali aku lihat saat itu adalah wajahnya. Wajah yeoja yang sangat kucinta, Park Eun Hee.

-NOW-

Pertunjukkan itu di akhiri dengan sangat indah. Aku sampai menangis terharu. Begitu juga Kwangmin dan Rin.
“Babo! Kau menangis! Padahal Happy end!” celetuk Rin sambil menjitak kepala Kwangmin.
“Ya! Jangan salahkan aku! Aku menangis bukan karena ceritanya!” jawab Kwangmin.
Aku mengangguk pelan sambil terus menatap ke panggung. Memang kami menangis bukan karena ceritanya. Tapi karena orang yang sekarang sedang berdiri di atasnya.
Ya, dialah Park Eun Hee.
Gemuruh tepuk tangan membahana dari semua penonton. Aku memperhatikan keluarga yang tadi menyapaku. Gadis kecil itu terlihat sangat menikmati sambil tersenyum lebar-lebar.
“Aku ingin seperti kakak yang itu!” ucap gadis kecil itu sambil menunjuk Eun Hee.
Aku tersenyum.
“Youngmin, ayo kita temui Eun Hee.” ajak Rin.
Aku mengangguk.
Kwangmin secara otomatis membantuku berjalan. Ia memampahku menuju pada pelayanku di luar ruangan yang setia menungguku.
“Ahjussi, biarkan Kwangmin dan Rin yang menemaniku.” ucapku kepadanya.
“Ne. Hati-hati Tuan …”
Kwangmin membantuku duduk di kursi roda. Aku masih ingat saat dokter mengatkan bahwa aku lumpuh. Semua dikarenakan kecelakaan tahun lalu. Saat aku menyelamatkan Eun Hee. Tapi aku tidak pernah menyesalinya. Bahkan aku bersyukur karenanya.
“Apa enak hidup di Amerika?” tanya Kwangmin sambil mendorong kursi rodaku.
“Ani. Aku lebih suka Seoul. Tapi yah bagaimana lagi, aku harus kesana untuk menyembuhkan kakiku …” jawabku sambil menoleh kepadanya.
“Kami sangat menrindukanmu!!” seru Rin sambil mencubit pipiku.
“Jangan halangi jalan chaggi!!” seru Kwangmin.
“Ya! Wae??” ia mulai menantang.
“Kau memperlambat!” jawab Kwangmin sengit.
“Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Kalian kan sudah bertunangan.” aku melerai mereka. Bisa bahaya kalau pertengkaran konyol tadi diteruskan.
“Ne! Lihat deh!!” Rin menunjukkan cicinnya dengan semangat.
Aku tersenyum sedang Kwangmin berdeham menahan malu.
“Aku harap kau pun bisa seperti kami. Atau mungkin lebih …” tiba-tiba Rin menjadi serius.
Aku mengangguk lemas. Kali ini aku akan mengungkapkan perasaanku sekali lagi. Aku harap ia bisa menerimaku.
“Tinggalkan aku. Aku akan melanjutkannya sendirian.”
Aku meninggalkan Rin dan Kwangmin di belakang dan mengendarai kursi rodaku sendirian.Aku akan melanjutkan sekarang sendirian. Aku akan menemui Park Eun Hee.

>>Park Eun Hee PoV

Aku berjalan melewati koridor. Baru saja aku menyelesaikan pertunjukkan. Rasanya seperti mimpi. Tahun lalu aku menunda pertunjukkanku karea insiden menyakitkan itu. Insiden yang membuatku harus berhenti untuk sesaat karena shock. Tapi sekarang rasanya semuanya telah terwujud.
Ingatanku melayang kejadian empat tahun lalu saat aku bertemu dengannya. Saat itu ia masih congkak. Beda dengan saudara kembarnya. Alhasil aku menyukai saudaranya. Tapi entah kenapa mata ini tidak bisa lepas dari pesonamu. Semua tatapanmu, senyummu, aromamu, segela hal tentangmu telah merasuk pada pikiranku.  Tapi sudah setahun kau menghilang sejak saat itu. Sejak kau menyelamatkan aku yang bodoh ini.
“Eun Hee …”
Air mataku hampir menetes saat mendengar suara ini. Aku teringat segalanya. Aku jadi teringat semuanya. Tapi sudah terlambat. Aku sudah membuatnya tidak bisa menari lagi. Aku sudah membuat ia kecewa. Aku menunduk menyembunyikan mukaku  dari orang yang sedang berjalan di koridor.
Lalu lama-lama aku berjongkok dan menumpahkan air mataku.
Tiba-tiba perasaanku membuncah dan tidak terkendali. Aku merindukannya! Aku ingin bertemu! Aku mencintainya!
“Youngmin … huhuhuhuhu …”
“Ada apa?”
Aku mengehentikan tangisku. Suara ini? Suara yang sama persis! Nada dingin dan acuhnya sama persis!
Aku mendongak dan menatap lekat-lekat orang di depanku. Ia duduk di kursi roda. Menggunakan blazer dan terkesan sangat formal. Namun rambutnya tetap pirang.
“Ka … Kau …” aku terbata.
Ia tersenyum. Aku berdiri di hadapannya. Aku menepuk pipiku. Aku takut ini mimpi. Tapi ini kenyataan. Yang ada di depanku sekarang adalah orang itu. Jo Youngmin.
Ia tersenyum dan bertanya .“Apa aku terlambat untuk memilikimu?”
-END-
wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk
cuma ini yang bisa aku persembahkan.
Terlalu cepat ya? Habis aku bingung …
Mian deh kalo gak ada feelnya sama sekali …

Jeongmal GOMAWO udah mau baca …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar